ulasan film sokola rimba

Kemarin tanggal 23 november 2013 alhamdulillah saya berkesempatan menonton film yang bagus dan sudah lama saya tunggu -  tunggu yaitu Sokola Rimba yang diproduseri langsung oleh Mira Lesmana dan disutradarai Riri Riza sedangkan pemeran utama wanitanya ialah Prisia Nasution yang memerankan aktivis pendidikan Butet Manurung.




saya menonton film ini di bioskop Kalibata XXI Jakarta Selatan. Awalnya saya tertarik menonton film ini karena profil Butet Manurung yang sering saya baca di media massa tentang kegiatan mengajar di pedalaman hutan di Jambi.


Film ini diawali ketika pasca reformasi Butet Manurung yang bekerja di Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi mengendarai motor masuk hutan untuk mengajar suku anak dalam di Jambi. Setelah berjalan cukup jauh Butet pun merasa lelah dan kemudian jatuh pingsan di tengah hutan.

Setelah tersadar, Butet mengetahui bahwa ia telah ditolong seorang anak rimba dari wilayah yang jauh kemudian berjalan mengantar ke tempat ia biasa mengajar. Butet pun penasaran mengapa ada anak yang bersedia berjalan jauh untuk menolonnya.

Beberapa hari kemudian Butet tanpa sengaja bertemu anak yang menolongnya namun anak tersebut tampak takut dan lari. Setelah mencari tahu dan berusaha mendatangi tempat anak yang menolongnya Butet mendatangi tempat tersebut dan meminta ijin kepada kepala suku yang dituakan.

Akhirnya Butet berhasil masuk dan mengajar anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis walaupun ada beberapa orang yang tidak suka karena adanya kepercayaan kalau anak membawa pensil akan jatuh sakit dan ilmu yang masuk akan mendatangkan kutukan.

Butet pun diminta pergi oleh ketua suku tersebut untuk mencegah konflik walaupun sang anak yang bernama Bungo merasa sedih karena ia ingin belajar dan tidak ingin ditipu oleh orang luar. Butet kemudian menemukan cara yaitu mengajar anak-anak pedalaman di rumah transmigran dari Jawa.

Disaat Bungo sudah bisa membaca dan menulis ia disuruh pulang oleh orang tuanya karena ketua suku di tempatnya telah meninggal dan warga suku tersebut kemudian berpindah tempat. Butet lalu kembali ke Jakarta dan mengumpulkan bantuan dengan menjadi pembicara di seminar-seminar serta meminta ke LSM internasional.

Pada saat Butet kembali ke Jambi, ternyata ia mendapat dukungan dari relawan untuk mendirikan sekolah di dalam rimba yang dinamakan Sokola Rimba. Pendidikan adalah senjata untuk menghadapi tekanan perubahan sedangkan ilmu adalah senjata untuk beradaptasi.

Film menggambarkan kondisi nyata pedalaman di Indonesia yang masih belum tersentuh pendidikan. dan kenyataan bahwa luas taman nasional di Jambi semakin terdesak oleh perkebunan kelapa sawit. Setelah menonton film ini saya belajar bahwa kita bisa melakukan perubahan di lingkungan sekitar kita. dan pendidikan hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dari penebang liar.

saya harap semakin banyak orang yang menonton film sokola rimba untuk mendukung pendidikan anak-anak Rimba di Indonesia serta lebih bersyukur lagi dengan fasilitas yang kita miliki selama ini.



Comments

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Bingung Mau Beli Makan Tapi Gak Bisa Delivery ?? Gojek Food Solusinya

Kulit Sehat Dan Bersinar Dengan Bahan Alami Gizi Super Cream