Dengan Nutrisi Yang Tepat Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Menjadi Optimal

Mendengar kata alergi membuat saya merasa tidak nyaman, karena kakak saya sensitif dengan debu sehingga sering bersin di pagi hari dan menjadi mudah sakit. Ada lagi cerita sahabat saya yang anaknya alergi dengan susu sapi sehingga sering batuk dan bersin. Dengan hal itu membuat saya menjadi waspada dengan alergi dan ingin mencari informasi dengan tepat bagaimana mengatasi alergi pada anak. Untunglah saya mendapat undangan dari Sari Husada untuk menghadiri Nutritalk dengan tema "Gizi di Awal Kehidupan: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi".


Karena ingin mengetahui tentang alergi pada anak, maka saya datang pada tanggal 24 Maret 2016 di Hotel Double Tree Jakarta. Saat saya tiba di depan ruangan ada dua booth yang mengajak undangan berpatisipasi untuk mengenal alergi dan mengetahui resiko alergi pada anak. Saya lalu mendatangi kedua booth tersebut dimulai dengan mengenal resiko alergi jika saya menikah dan punya anak nanti. Walaupun saya dan pasangan tidak memiliki alergi, namun karena kakak saya alergi tetap ada yaitu sebesar 30 % yang tergolong resiko kecil.


Selanjutnya ialah mengenali gejala yang muncul jika anak-anak alergi terhadap susu sapi. Ada tiga gejala yang terjadi yaitu gejala pada kulit yang ditandai dengan bentol merah gatal dan kulit kering, gejala pada saluran nafas misalnya ingus encer, batuk berulang, dan gejala asma, terakhir gejala pada saluran cerna yaitu muntah, diare, dan buang air besar disertai darah. Tak lama Nutritalk dimulai dengan dibuka MC cantik yang juga dokter yaitu Lula Kamal. Pembicara pertama DR Dr Rini Sekartani SpA(K) yang juga sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).



Pada masa pertumbuhan dan perkembangan, anak membutuhkan dukungan berbagai aspek antara lain motorik kasar, motorik halus, sosial dan tingkah laku. Alergi merupakan penyakit yang bisa berdampak pada perubahan berat badan. Alergi jika tidak ditangani dengan baik akan membawa dampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain menjadi banyak pantangan dalam memilih makanan atau picky eater, muntah, sulit makan, diare sehingga asupan protein menjadi berkurang.


Dampak alergi lainnya sulit tidur dan sering terbangun tengah malam sehingga jumlah waktu tidur berkurang dan pertumbuhan anak menjadi terhambat. Agar dampak tersebut tidak terjadi pada anak, maka perlu pencegahan dengan memberikan nutrisi yang tepat sejak dalam kandungan hingga 1000 hari pertama, dan mengenali dan menangani masalah dengan memeriksakan ke dokter. Kesimpulan dari Dr Rini ialah anak dengan alergi makanan lebih sering mengalami gangguan pertumbuhan dan jika dilakukan pemberian nutrisi yang tepat serta dipantau dengan baik akan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.


Pembicara kedua seorang dokter dan profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Prof DR Dr Budi Setiabudiawan SpA(K) MKes yang merupakan Konsultan Alergi Imunologi Anak. Dengan gaya yang enerjik pak Budi menjelaskan alergi merupakan reaksi yang berbeda dari normal terhadap rangsangan atau zat dari luar tubuh. Biasanya yang memicu alergi ialah makanan, debu dan obat-obatan. Alergi biasanya terjadi pada anak-anak sedangkan non alergi terjadi pada orang dewasa karena adanya zat yang tidak masuk ke dalam tubuh.


Makanan yang biasa menjadi pemicu alergi pada tahun pertama kehidupan antara lain susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut, gandum, dan ikan. Dari data World Allergy Organization (WAO) 1,9 sampai 4,9 % anak-anak di dunia alergi protein susu sapi. Alergi muncul karena pengaruh lingkungan dan genetik atau bakat alergi. Faktor-faktor yang beresiko memunculkan alergi yaitu polusi lingkungan, paparan asap rokok, pengenalan makanan padat secara dini dan yang tertunda-tunda, dan kurang paparan sinar matahari.

Banyak orang yang masih salah kaprah ketika hamil melakukan diet ketat dengan memilih makanan yang malah menimbulkan resiko bayi kurang gizi. Padahal ketika hamil seorang ibu bebas makan apa saja kecuali makanan yang menimbulkan alergi. Selanjutnya ialah pemberian ASI ekslusif selama enam bulan pertama karena dalam ASI mengandung alergen dalam jumlah sedikit dan bisa memberikan nutrisi untuk daya tahan tubuh anak. Jika karena suatu kondisi yang menyebabkan bayi tidak diberi ASI bisa menggunakan susu formula dengan kandungan hidrolisat parsial selama 4-6 bulan.


Dengan kandungan ini bisa memotong protein menjadi lebih pendek sehingga mudah dicerna dan diserap anak. Setelah usia 6 bulan saatnya diperkenalkan berbagai jenis makanan disesuaikan kemampuan, dan perlu memberikan vaksinasi pada anak. Saran dari Prof Budi untuk para wanita sebaiknya memilih persalinan normal dibandingkan caesar. Lalu jika sebelum menikah kedua pihak memiliki riwayat alergi apa yang perlu dilakukan? Pertanyaan ini membuat saya berpikir bagaimana jika saya menikah dengan seorang yang memiliki alergi? Jawabannya ialah tidak perlu khawatir karena sudah ada pencegahan dan solusi pada anak dengan menggunakan susu yang mengandung hidrolisat parsial.

Untuk mengetahui apakah anak alergi atau tidak perlu dilakukan uji prick test dan pemeriksaan darah di rumah sakit. Ketika sudah mengetahui anak terkena alergi banyak orang tua yang enggan memberikan susu hidrolisat parsial karena harganya yang tidak murah dan rasanya yang aneh. Padahal jika berobat terus menerus biaya jauh lebih mahal dan anak belum bisa membedakan rasa susu sehingga tersugesti pendapat orang tua akan rasa susu tersebut. Alternatif lainnya ialah meminum susu dengan kandungan kedelai yang aman dan rasa yang enak.


Wah puas rasanya mendapat informasi penting seputar alergi dari dua dokter yang pakar di bidangnya. Kekhawatiran akan mendapat pasangan yang memiliki alergi sudah hilang karena sudah mengerti cara pencegahan dan penanganan. Tak lupa saya juga mendapat kartu deteksi dini yang bisa mengetahui tingkat resiko alergi dilihat dari orang tua dan saudara kandung. Sebuah acara talkshow yang menyenangkan dan bermanfaat untuk mengenali lebih dekat alergi dan membagikannya ke orang di sekitar saya.


Semoga acara Nutritalk rutin diadakan di berbagai kota Indonesia agar informasinya bisa tersebar luas ke masyarakat dan bisa memberikan pencegahan serta penanganan dengan baik. Tak terasa acara talkshow selesai ditandai dengan foto bersama kedua pembicara, pak Arif Mujahidin dan tim Sari Husada. Terima kasih tim Sari Husada atas acara talkshow yang berbobot sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Bingung Mau Beli Makan Tapi Gak Bisa Delivery ?? Gojek Food Solusinya

Kulit Sehat Dan Bersinar Dengan Bahan Alami Gizi Super Cream