Menjadi Konsumen Yang Cerdas Dengan Beli Yang Baik

Pada pertengahan tahun 2015 lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan masalah kabut asap yang berasal dari hutan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan lainnya. Masalah asap yang dimuat di berbagai media selama beberapa bulan membuat aktivitas menjadi terhambat. Anak-anak sekolah terpaksa diliburkan karena tidak bisa melihat dengan jelas dan jumlah korban meningkat baik yang dirawat atau meninggal dunia

Walaupun sudah mereda namun hal ini tidak bisa dibiarkan dan menjadi tanggung jawab semua pihak. Bukan hanya pemerintah yang harus menindak tegas para penebang hutan tapi juga masyarakat umum yang harus perduli dengan lingkungan. Walaupun tinggal di Jakarta dan tidak mengalami langsung kabut asap, saya prihatin dan khawatir hutan Indonesia terbakar habis jika tidak ada tindakan pencegahan. Namun jika hanya memberi donasi untuk korban tidaklah cukup karena harus ada upaya pencegahan yang melibatkan masyarakat luas.


Sebagai salah satu perusahaan multinasional yang sudah berdiri ratusan tahun, Unilever sangat perduli dengan isu lingkungan dan ingin mengajak konsumen ikut terlibat dalam prosesnya. Saya sendiri menggunakan beberapa produk dari Unilever dan ingin tahu bagaimana caranya agar saya bisa mendukung kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Maka salah satu cara yang dilakukan ialah dengan mengadakan sosialisasi dengan mengajak blogger untuk berdiskusi pada 22 April 2016 di Tartine Fx Sudirman.


Sesi pertama dibuka oleh penjelasan ibu Maria Dewanti Head Of Corporate Communication Unilever yang mengatakan bahwa kampanye Unilever yang diberi nama brightFuture sudah diluncurkan sejak tahun 2013. Kampanye ini sebelumnya diberi nama Project Sunlight diadakan di enam negara antara lain Indonesia, Amerika, Inggris, India, Brazil dan Afrika Selatan. Tujuan kampanye ini diadakan ialah untuk mengajak jutaan orang di seluruh dunia untuk menerapkan gaya hidup yang berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Alasan mengapa Unilever perduli tentang isu lingkungan karena ingin terus mengembangkan kelanjutan perusahaan di masa mendatang, mengurangi dampak terhadap lingkungan dan memberikan dampak positif ke perusahaan. Dari hasil survey yang dilakukan mengenai efek lingkungan dari sebuah proses produksi, 26 % berasal dari pemilihan bahan baku, 6 % dampak yang dihasilkan perusahaan, dan 68 % pemakaian produk oleh konsumen. Sehingga yang memegang peranan penting dalam mengurangi pencemaran lingkungan.

Sayangnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan masih rendah. Untuk itulah Unilever rutin mengadakan kampanye ke berbagai lapisan masyarakat menggunakan beberapa jenis media. Salah satu media yang cukup banyak digunakan antara digital dengan kampanye di media sosial dan iklan di youtube dengan durasi lebih lama dibandingkan dengan iklan televisi. Harapannya dengan rutin mengadakan sosialisasi konsumen akan lebih bijak memilih produk dengan membeli produk berukuran besar. Selain harganya yang lebih ekonomis akan membantu mengurangi sampah.


Dalam hal ini konsumen memiliki kekuatan yang besar untuk mendorong perusahaan memproduksi tanpa mencemari lingkungan. Pernyataan ini dikemukakan mba Dewi Satriani dari WWF Indonesia. Selama ini WWF dikenal sebagai organisasi yang aktif untuk melindungi satwa langka yang terancam punah. Beberapa diantaranya harimau, gajah, dan monyet. Untuk melindungi satwa tersebut berbagai upaya telah dilakukan WWF misalnya mengajak masyarakat lokal tidak menebang pohon. Namun mereka tetap saja menebang pohon karena perusahaan kertas atau tisu butuh kayu. Nah perusahaan memproduksi karena adanya permintaan konsumen yang meningkat.

sumber : www.wwf.or.id
Sehingga WWF merasa perlu melakukan sosialisasi kepada konsumen agar perduli dengan aspek lingkungan. Agar konsumen bisa membeli produk yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan ada lima pertanyaan dasar penting sebelum melakukan pembelian yaitu :

1. Apakah fungsi produk sesuai dengan kebutuhan? Hal ini penting karena seringkali orang membeli barang karena terpengaruh diskon atau promosi harga murah. Padahal belum tentu kita membutuhkan dan jarang dipakai. Jika bisa membeli sesuai dengan kebutuhan maka juga ikut mengurangi sampah. 

2. Dari mana asal bahan baku produknya? Untuk mengetahui apakah bahan yang digunakan untuk produksi tidak merusak lingkungan, konsumen bisa bertanya melalui customer service. Dengan aktif bertanya maka perusahaan akan terdorong untuk memilih bahan baku yang ramah lingkungan. 

3. Bagaimana produksinya? Sebagai konsumen kita perlu mengetahui apakah proses produksinya sudah sesuai dengan peraturan pemerintah dan tidak mencemari lingkungan. Karena jika perusahaan memproduksi dengan merusak hutan maka konsumen bisa melaporkan dan menuntut agar memperbaiki kerusakan yang ada. 

4. Bagaimana kontribusi perusahaan terhadap lingkungan ? Saat ini dengan keterbukaan akses informasi konsumen bisa mengetahui apakah perusahaan memiliki aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan. Misalnya memberikan edukasi mengolah sampah atau membantu pemerintah daerah untuk menyaring air menjadi lebih bersih. Jika perusahaan tersebut perduli dengan lingkungan maka akan terlibat untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

5. Apakah kemasannya bisa didaur ulang ? Setelah konsumen membeli barang dan habis terpakai, akan lebih baik jika bisa didaur ulang untuk mengurangi jumlah sampah. Baik produsen dan konsumen bisa saling bersinergi mendaur ulang sampah dengan melibatkan berbagai komunitas di masyarakat. Sehingga makin banyak orang yang perduli dengan lingkungan.


Kepedulian akan kelestarian lingkungan juga dilakukan oleh penyanyi dan ibu Nola B3. Sebagai seorang ibu dan konsumen sebuah produk, Nola aktif mengajak putrinya untuk lebih perduli dengan lingkungan. Hal yang dilakukan dimulai dengan langkah sederhana misalnya menghemat air, memilih produk yang ramah lingkungan di supermarket dan mengajak putrinya memberikan inspirasi kepada teman di sekitarnya. Memang tidak mudah untuk mengajarkan hal ini namun jika dilakukan terus menerus dan dengan contoh yang mudah, maka anak akan terbiasa melakukannya



Ternyata sebagai konsumen saya memiliki peranan besar agar perusahaan lebih memperhatikan dampak lingkungan. Selama ini saya kurang memperhatikan hal tersebut dan lebih memilih harga yang murah atau kemasan yang menarik. Dengan penjelasan dari ketiga pembicara membuat saya untuk lebih selektif memilih produk. Selain itu ada beberapa cara yang bisa dilakukan konsumen untuk mendukung program #beliyangbaik antara lain : 

a. Tulis inspirasi di Facebook Unilever bagaimana tips melestarikan lingkungan di kolom komentar dengan #beliyangbaik. Inspirasi terbaik akan mendapatkan voucher belanja Hypermart senilai Rp 100.000

b. Datang ke Hypermart dan ikuti kompetisi #beliyangbaik karena setiap pembelian produk Unilever seperti Lipton, Bango, Lifebuoy, Pepsodent, Domestos, Dove, Molto, Rinso dan Pure It di Hypermart dari 21 April sampai 17 Mei akan otomatis mendonasikan Rp 1000. Donasi tersebut akan digunakan untuk program NEWtrees yaitu penanaman 10.000 pohon di Jakarta, Jogjakarta dan Tulungagung bersama WWF. Kunjungi pula booth Unilever di Hypermart Balikpapan tanggal 7 Mei bersama Meisya Siregar, Hypermart Palembang Square tanggal 7 Mei bersama Mona Ratuliu dan Hypermart Puri Indah tanggal 14 Mei besama Ersa Mayori. 

Setelah mengunjungi booth tulis tips bagaimana melestarikan lingkungan yang berkesempatan mendapatkan voucher belanja Rp 200.000 untuk mengikuti kompetisi belanja. Pemenang dari pemenang kompetisi akan berkesempatan mendapatkan voucher Hypermart Rp 1.000.000.


Sebuah program yang menarik sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih perduli dengan lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Untuk lebih perduli bisa dimulai dari hal kecil di sekitar kita termasuk cerdas membeli produk. Bumi yang kita tempati merupakan pinjaman untuk anak cucu sehingga kita harus menjaganya agar generasi selanjutnya bisa hidup di lingkungan yang lebih baik.  








Comments

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Bingung Mau Beli Makan Tapi Gak Bisa Delivery ?? Gojek Food Solusinya

ulasan film sokola rimba