Perjuangan Atlet Panahan Dalam Meraih Medali Olimpiade

Bulan depan akan diselenggarakan ajang olahraga internasional Olimpiade di Rio de Janeiro Brazil. Hampir semua negara berpatisipasi dengan mengirimkan atlet terbaiknya termasuk Indonesia. Dari Indonesia sendiri cabang olahraga yang diharapkan bisa mendapatkan medali ialah bulu tangkis dan angkat besi. Namun ternyata jauh sebelum saya lahir, Indonesia pernah mengirimkan atlet panahan Donald Pandiangan yang masuk 16 besar Olimpiade XXI Montreal tahun 1976. Hal ini baru saya ketahui ketika menonton gala premier Film 3 Srikandi di blitz Megaplex Grand Indonesia 27 Juli 2016.


Film 3 Srikandi yang dibintangi Chelsea Islan sebagai Lilies Handayani, Bunga Citra Lestari sebagai Nurfitriyana, Tara Basro sebagai Kusuma Wardhani, Reza Rahadian sebagai Donald Pandiangan. Sudah beberapa bulan lalu saya menunggu tayangnya film ini, dan berharap bisa menonton karena mengangkat tema olahraga panahan dengan tokoh tiga atlet wanita. Diceritakan dalam film ini masing-masing atlet memiliki impian agar bisa lolos seleksi dan bertanding di ajang olimpiade. Namun untuk mencapainya bukan hal yang mudah karena banyak kendala yang ditemui dari keluarga, pekerjaan, dan pelatih yang handal.


Di tengah kesulitan mendapatkan pelatih, pak Udi Harsono diperankan Dony Damara seorang pengurus organisasi panahan berusaha mencari Donald dan mengajaknya sebagai pelatih atlet wanita. Awalnya Donald menolak karena kecewa dengan sikap pemerintah yang memboikot Olimpiade Moskow sehingga impiannya meraih medali menjadi gagal. Namun dengan satu syarat agar organisasi tidak terlalu campur tangan, ia bersedia melatih atlet yang lolos seleksi Pelatnas. 

Saat melatih tiga atletnya, Donald yang dijuluki Robin Hood Indonesia menerapkan kedisplinan dan konsentrasi dengan caranya yang unik. Mulai memilih rumah yang kurang terawat di Sukabumi, menyuruh atletnya untuk memotong rumput, lari pagi dengan udara yang berkabut sampai memanah di atas drum bensin. Sebuah latihan yang tidak mudah bagi ketiga wanita muda ini, apalagi mereka harus meninggalkan keluarga dan impian orang tua. Tetapi di tengah kerasnya latihan di kota kecil, mereka masih bisa menikmati hiburan di akhir pekan dan menyelinap keluar untuk menonton film.

sumber : 3srikandi.com
Penonton diajak bernostalgia ke tahun 80an dengan pakaian, model rambut, musik dan film yang sedang populer yaitu Catatan Si Boy. Konflik mulai bermunculan ketika orang tua Lilis yang ingin menjodohkan dengan pengusaha Surabaya karena kehidupan atlet yang kurang sejahtera. Ditambah sikap ayah Yana yang selalu menentang pilihannya untuk menjadi atlet dan lebih suka anaknya menyelesaikan skripsi dan menjadi sarjana. Donald yang keras dan disiplin ternyata memiliki sisi yang berbeda ketika bertemu dengan tantenya atau Tulang yang diperankan Rina Hasyim yaitu bisa menyanyi dan bermain gitar. 

sumber : 3srikandi.com
Menjelang keberangkatan ke Olimpiade Seoul tahun 1988, ketiga atlet ini digembleng dengan memanah di atas tebing yang harus fokus walaupun angin bertiup kencang. Ketika pertandingan di Olimpiade Seoul walaupun mereka gagal di bagian individu, mereka tetap berjuang di bagian tim atau kelompok dengan kompetitor yang handal. Perlahan tapi pasti mereka bisa masuk ke tiga besar bersaing dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Ketegangan terjadi ketika tim Indonesia harus bertanding ulang dengan tim Amerika untuk mendapatkan medali perak dan perunggu.


Dengan semangat dan keyakinan ingin memberikan hasil yang terbaik untuk negeri, mereka akhirnya mendapatkan medali pertama di Olimpiade untuk Indonesia. Sebuah upaya yang mengharukan mengingat mereka seorang perempuan yang harus membuktikan kerja keras mereka pada keluarga. Setelah menonton film ini, saya menjadi mengetahui cabang olah raga lain selain bulu tangkis yang populer di masyarakat. Di antara ketiga pemain wanita, akting Chelsea Islan cukup menghibur dengan logat Jawa yang medok, karakter yang ceria dan keras kepala. Selamat untuk sutradara Iman Brotoseno yang berhasil menceritakan atlet Indonesia kepada masyarakat secara luas.

sumber : 3srikandi.com
Semoga dengan adanya film 3 Srikandi yang akan ditayangkan tanggal 4 Agustus sehari sebelum Olimpiade Brasil 2016, bisa memberikan contoh kepada generasi muda Indonesia untuk berprestas di bidang olah raga. Pemerintah dan masyarakat bisa memberikan dukungan kepada atlet yang akan bertanding di olimpiade sehingga profesi atlet lebih dihargai dan memiliki masa depan yang sejahtera.



Comments

  1. Eiya, waktu itu sempet liat poster coming soon-nya di bioskop, ternyata udah mulai tayang ya.. mau ah nonton nanti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba 4 Agustus tayang di bioskop :)

      Delete
  2. saya dulu waktu masih SD emang pernah denger dan baca HL di koran Srikandi Indonesia
    tapi belum paham siapa saja orgnya hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Bingung Mau Beli Makan Tapi Gak Bisa Delivery ?? Gojek Food Solusinya

Dorong Motivasi Diri Untuk Memiliki Rumah Tanpa Hutang