Upaya Menurunkan Jumlah Perokok Melalui Iklan Layanan Masyarakat

Tingginya jumlah perokok di Indonesia setiap tahun ditambah usia merokok yang semakin muda membuat banyak pihak prihatin. Bertambahnya perokok anak sekolah dibawah 17 tahun dan gencarnya promosi serta iklan rokok di berbagai tempat membuat beberapa pihak khawatir akan dampak yang ditimbulkan. Selain bertambahnya penyakit akibat merokok juga akan menurunkan produktivitas generasi muda. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan dan harus dilakukan tindakan pencegahan agar dampaknya tidak bertambah.

Salah satu pihak yang perduli akan kesehatan terutama dampak merokok bekerja sama dengan Kementrian Kesehatan meresmikan kampanye melalui iklan layanan masyarakat. Iklan ini mengambil tema "Rokok Merusak Tubuhmu" yang diluncurkan tanggal 2 September 2016 di Kantor Kementrian Kesehatan RI. Peluncuran ini dilakukan karena pemrintah melihat banyak penyakit berbahaya yang disebabkan oleh merokok misalnya kanker paru-paru, jantung, stroke, dan kanker mulur. 



Iklan ini akan ditayangkan di berbagai stasiun televisi nasional selama enam minggu dan beberapa media sosial seperti Youtube, Twitter, Facebook, dan Instagram melalui www.suaratanparokok.co.id dengan tagar #SuaraTanpaRokok. Iklan ini merupakan lanjutan dari fase sebelumnya yang tayang bulan Mei 2016 dengan tema efek merokok terhadap diri sendiri maupun keluarga. Saat peluncuran iklan ini, juga ada sesi talkshow dengan dua narasumber yaitu Ir. Doddy Izwardy, MA yang menjabat Direktur Gizi Masyarakat, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, DR. Abdillah Ahsan, M. yang menjabat Wakil Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia, dan Zivanna Letisha sebagai host.



Talkshow ini membahas beberapa topik antara lain isu kenaikan harga rokok mencapai lima puluh ribu yang sempat ramai di media sosial beberapa waktu lalu. Isu ini muncul karena pada tahun 2011 dilakukan riset FGD berapa harga yang bisa membuat perokok berhenti. Ternyata harga tersebut merupakan harga yang sesuai agar perokok berhenti membeli rokok. Untuk mencapai harga tersebut cukai rokok perlu dinaikkan empat kali lipat dari cukai saat ini. Kenaikan cukai saat ini yang hanya 10-15 % masih disubsidi perusahaan rokok, sehingga masyarakat masih membeli dengan harga murah.


Selanjutnya menurut pak Doddy saat ini data di Indonesia menunjukkan 67%  pria  dan 4% wanita merokok dan prevalensi terus meningkat. Sedangkan prevalensi Thailand menurun padahal selama 20 tahun produksi rokok tidak menurun. Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2025-2030 namun akan menjadi bencana demografi jika generasi muda sudah merokok sehingga produktivitas kerja pun akan menurun. Pak Abdillah menambahkan upaya yang dilakukan pemerintah sekarang belum terlalu efektif dibandingkan upaya promosi iklan rokok yang mencapai lima triliun per tahun.


Untuk itu perlu upaya yang berbarengan dari Kemenkes dan Kemenkeu untuk menaikkan cukai rokok dan melarang iklan merokok di berbagai media massa. Hal itu perlu dilakukan untuk menurunkan jumlah perokok dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkualitas. Pertumbuhan ekonomi tidak akan tercapai jika pasien penyakit jantung dan stroke terus meningkat setiap tahunnya. Biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah menjadi lebih besar daripada penerimaan cukai rokok setiap tahunnya.

Jika ada pernyataan kenaikan cukai rokok yang tinggi akan mematikan industri kecil tidak benar karena industri kecil mati karena kalah bersaing dengan industri besar dan tidak pernah mengalami kenaikan cukai . Kedua pembicara pun berharap pemerintah melalui presiden tegas menaikkan cukai rokok untuk melindungi penduduk Indonesia dari bahaya asap rokok dan ada sinergi antar kementrian untuk menurunkan jumlah perokok. 




Comments

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Bingung Mau Beli Makan Tapi Gak Bisa Delivery ?? Gojek Food Solusinya

Kulit Sehat Dan Bersinar Dengan Bahan Alami Gizi Super Cream