Aktif Berkarya Dan Saling Menghargai Ini Arti Pancasila Bagiku

Saat memasuki SMP dan SMA dahulu saya akan melewasi masa orientasi atau ospek. Masa ini akan diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah, ekstrakurikuler, dan para guru. Salah satu hal yang harus dilalui ialah penataran P4 atau pendalaman materi terkait Pancasila dan UUD 45. Saat itu yaitu tahun 90an semua pelajar diwajibkan menghafal butir-butir Pancasila, pembukaan UUD 45, dan sila dalam UUD 45. 



Karena masih "anak baru" saya pun hanya bisa menjalankan tahapan itu selesai orientasi bahkan lulus SMA. Memang pendidikan saat orde baru masih menitik beratkan pada poin hafalan. Namun disisi lain dengan menghafal maka menjadi lebih paham dan bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.




Saat sekolah saya menganggap ekskul Paskribra atau Pramuka adalah sesuatu yang keren Kenapa keren? karena bisa sering mengikuti lomba dan tampil di depan seluruh murid dan guru saat upacara bendera. Upacara wajib dilakukan bahkan rutin hampir setiap minggu jadi pagi anggota paskibra jadi sebuah kebanggan bisa menjadi petugas upacara. 

Memasuki SMA, kebanggan menjadi anggota Paskibra bertambah karena melihat kakak kelas yang terpilih menjadi Paskibraka nasional membawakan bendera saat upacara 17 Agustus di Istana Negara. Bagi saya saat remaja mempraktekkan nilai-nilai Pancasila salah satunya ialah dengan mengikuti ekskul Paskibra. 

Dalam Paskibra saya bisa belajar disiplin, kerja sama, berani, solidaritas dan cinta tanah air. Selain itu ketika akan mengikuti lomba kami akan membicarakan banyak hal bersama-sama dengan penuh kekeluargaan. Memang saya tidak pernah mengikuti kejuaraan yang mendapatkan hadiah tapi nilai-nilai itu menjadi dasar yang kuat sampai saya dewasa. 

Seiring bergantinya pemerintahan menjadi reformasi, nilai Pancasila pun semakin pudar di masyarakat. Derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi tanpa diiringi nilai moral yang kuat membuat banyak generasi muda ikut arus yang negatif. 




Padahal Pancasila dibuat dengan penuh kerja keras oleh pahlawan yang ingin merdeka dari penjajahan namun sekarang kurang populer bahkan diterapkan oleh generasi muda. Hal inilah yang kemudian membuat Lola Amaria, Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo membuat film "LIMA" yang menggambarkan Pancasila. 




Saya beruntung mendapatkan kesempatan menontonnya pada tanggal 1 Juni 2018 di Djakarta Theater bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Meskipun sedang berpuasa saya antusias menonton film karya sineas dalam negeri apalagi didukung oleh Shopback yang juga mengundang beberapa komunitas. 

Dalam film "Lima" saya melihat ada beberapa cerita dalam sebuah keluarga terkait Pancasila. Meski agak berat diawal namun perlahan saya bisa memahami relevansi cerita dengan Pancasila. Harus diakui masih banyak peristiwa di masyarakat seperti dalam film. Misalnya perbedaan agama dalam keluarga yang dianggap aneh, diskriminasi atlet pribumi atau non pribumi, bahkan kasus pencurian yang dialami orang kurang mampu. 

Saya mengapresiasi upaya Lola Amaria dkk dalam membuat film ini yang tidak mudah dan kurang populer dibanding tema lainnya. Setelah menonton film ini saya menjadi merenungkan kembali bagaimana makna Pancasila dalam kehidupan saya dan sudah sejauh apa saya menerapkannya. Secara keseluruhan akting pemain, cerita dan tema cukup bagus hanya ada beberapa bagian yang cukup mengganggu yaitu adegan anak sekolah yang merokok. 

Nah karena sekarang saya sudah bukan remaja anggota Paskibra, saya pun berusaha mengartikan Pancasila sesuai keadaan saat ini. Pancasila bukan sekedar simbol negara tapi menjadi nilai moral yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila juga menjadi identitas warga Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. 



Untuk mempraktekkan memang tidak mudah, namun bisa dimulai dari hal kecil seperti menghargai keyakinan yang berbeda, tidak menyebarkan hoaks atau konten yang memicu perpecahan di media sosial dan aktif berkarya yang bisa menginspirasi orang lain. Dengan kemudahan teknologi saat ini seharusnya bisa membuat siapapun berkarya dan menginspirasi orang lain dengan cara poritif. 



Seperti yang saya lakukan ialah aktif berkarya melalui tulisan dengan tujuan menyebarkan informasi positif melalui internet. Jika semakin banyak orang yang membuat konten positif di dunia maya tanpa harus menyinggung SARA maka semakin banyak orang yang bisa memperoleh manfaat atau teredukasi dengan baik. 

Maka cara saya mengartikan Pancasila yang kekinian ialah menghargai perbedaan pendapat, mendukung karya anak bangsa misalnya menonton film Indonesia di bioskop dan menjadi netizen yang baik dengan membuat konten yang bermanfaat bagi banyak orang. Mengartikan Pancasila kini bisa dilakukan dengan banyak cara yang kekinian sesuai karakter setiap orang asalkan tujuannya tidak melenceng dari hukum atau norma di masyarakat. 

Dengan adanya perbedaan membuat Indonesia semakin berwarna dan bukan untuk diperdebatkan apalagi dipermasalahkan. Mari menjadi warga yang baik dengan aktif berkarya dan saling menghargai. 












Comments

  1. Ayolah pemudapemudi indonesia jangan hanya menghafal urutan pancasila. Kita jg harus memaknai nilai nilai pada pancasila yang menghubung kita dengan tuhan dan kesejahteraan antar sesama. Jgn ada bully kekerasan tawuran merebut hak orglain.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Kulit Sehat Dan Lembut Dengan Sabun Klorofil K-Link