Berdaya Di Negeri Sendiri Dengan Rebranding Koperasi

Sebagai pekerja lepas yang bekerja independen saya sering menyelesaikan pekerjaan di tempat berbeda mulai dari kedai kopi, coworking space, perpustakaan, restauran, dan rumah. Pilihan saya untuk bekerja dengan berpindah tempat awalnya dianggap sesuatu yang kurang lazim, tapi kini dengan perkembangan teknologi banyak anak muda yang memutuskan menjadi freelancer atau mendirikan usaha rintisan atau start up.



Banyaknya rintisan baru di generasi millenial membuat ekonomi Indonesia bertumbuh dan menarik investor asing untuk menanamkan modalnya. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan beberapa aplikasi asal Indonesia seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka. Dengan konsep "economy sharing" startup tersebut berhasil membuka lapangan pekerjaan baru dan memotivasi generasi millenial menjadi wirausaha. 



Perkembangan teknologi yang kini hampir dirasakan setiap orang sampai di pelosok, membawa beberapa perubahan kehidupan dalam masyarakat. Dari anak-anak sampai dewasa kini dekat dengan gadget mulai memesan ojek, membeli makanan atau pakaian, sampai membeli tiket pesawat. Maka tidak heran kini remaja mulai dari SMP, SMA dan kuliah mudah menjadi selebritis karena kemudahan menggunakan media sosial.

Profesi seperti videografer, vlogger, blogger, influencer kini bisa dijalankan siapapun asalkan mau belajar dan rutin membuat konten yang digemari. Potensi pasar anak muda yang besar membuat banyak brand asing membuka outletnya di Indonesia mulai dari kedai kopi, supermarket, dan barang kebutuhan lainnya. 

Sayangnya brand asing malah diminati dibandingkan produk lokal padahal kualitas produk Indonesia sama seperti barang import. Masyarakat pun lebih bangga memiliki kartu anggota Starbukcs, Coffeebean, dan tempat nongkrong lainnya dibanding menjadi anggota koperasi. Imej koperasi yang jadul dan kurang gaul membuat anak muda enggan bergabung dengan koperasi.

                                                                 sumber : travel.kapanlagi.com

Koperasi selama  ini lebih banyak dekat dengan petani, nelayan, pegawai negeri atau orang sudah bekerja. Masih jarang pelajar dan mahasiswa menjadi anggota koperasi di sekolah maupun kampusnya. Padahal koperasi sudah masuk dalam kurikulum sekolah sejak sekolah dasar sampai mahasiswa. 

                                                          sumber : ukmnews.com

Menurut M Iskandar Soesilo dalam buku Dinamika Gerakan Koperasi Indonesia beberapa masalah yang menghambat perkembangan koperasi antara lain kualitas SDM yang masih rendah, belum diterapkan prinsip manajemen koperasi, kurangnya penyuluhan koperasi, dan ancaman masuknya hipermarket asing. 

Masalah ini membuat bapak Puspayoga meluncurkan program strategis berupa "Rebranding Koperasi"  yang menggandeng mahasiswa dalam menggerakkan koperasi di kalangan generasi muda. Kampus yang dijadikan percontohan antara lain UGM dan UIN Walisongo Semarang terutama Kopma (koperasi mahasiswa) yang akan diberi pendampingan pelatihan kewirausahaan dan manajemen koperasi. 

                                                             sumber : metrosemarang.com

Langkah ini menurut saya patut diapresiasi dengan menggandeng dua kampus yang memiliki anggota lebih dari seribu orang dan beberapa unit usaha di dalam kampus. Namun dua kampus saja menurut saya masih kurang perlu menambah lagi beberapa kampus di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan Makassar. 



Untuk mempermudah Rebranding Koperasi juga dibutuhkan kemudahan regulasi dan perijinan dengan merevisi UU No 25 tahun 1992. Hal ini diungkapkan bapak Suroto sebagai Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (AKSES) dalam majalah Cooperative edisi September 2017, mengungkapkan salah satu pasal yaitu syarat untuk mendirikan koperasi dibutuhkan anggota minimal dua puluh orang. 

Hal ini menjadi hambatan bagi mahasiswa atau wirausaha untuk mendirikan koperasi sedangkan menurut  International Co-operative Law Guidance hanya dibutuhkan minimal dua orang. Dengan merubah persyaratan menjadi lebih sederhana maka dapat mendorong minat generasi muda dalam mendirikan dan mengembangkan koperasi. 

Supaya lebih dekat dengan generasi masa kini koperasi harus menyesuaikan kebutuhan konsumen misalnya menyediakan layanan antar melalui aplikasi, memberikan benefit yang menarik bagi anggota misalnya voucher makan atau nonton, rutin mengupdate program atau promosi dengan media sosial dan menggandeng  publik figure yang mewakili anak muda misalnya Raditya Dika atau Kaesang. 


                                                            sumber : nasional.kompas.com

Hal lain yang perlu dilakukan ialah bekerja sama dengan lembaga pemerintah atau swasta untuk memudahkan masyarakat menjalankan koperasi misalnya dengan Badan Ekonomi Kreatif yang memiliki program satu juta startup bisa disinergikan dengan mendirikan koperasi bagi pemilik startup. 

Contoh lainnya ialah berkolaborasi dengan Kominfo untuk mengedukasi masyarakat melalui media digital atau membuat situs koperasi online dimana setiap orang bisa bergabung menjadi anggota secara online dengan beberapa benefit. 

                                                       sumber : depkop.go.id

Semakin banyak bersinergi dengan berbagai kalangan baik pemerintah maupun swasta  maka rebranding koperasi akan semakin efektif dilakukan dan bisa menyentuh berbagai kalangan masyarakat. Usaha rebranding harus kontinu dilakukan dan menggunakan platform yang banyak digunakan generasi millenial seperti instagram, youtube, dan facebook. 



Beberapa program dan usaha Kementrian Koperasi dan UKM perlu didukung dan diapresiasi karena sudah memulai inisatif sejak tahun 2017 dengan melakukan penyuluhan ke kampus dan koperasi yang masih aktif. Selain itu dengan teknologi untuk membantu pelaku UKM membuat laporan keuangan Kemenkop telah membuat aplikasi Lamikro yang bisa diunduh di playstore. 



Agar mendukung pemerintah dalam merebranding koperasi, maka dipilihlah Rano Karno sebagai Duta Koperasi sejak tahun 2018. Diharapkan dengan relasi yang luas dan sosok yang familiar membuat masyarakat dekat dengan koperasi. Masayarakat sudah tidak sabar untuk melihat gebrakan pemeran "si Doel" untuk meningkatkan reputasi koperasi.

Meskipun tantangan masih banyak yang perlu diperbaiki, potensi koperasi masih besar dan bisa ditingkatkan lagi. Terbukti dengan hadirnya koperasi atas kesadaran beberapa kelompok masyarakat yang mendirikan minimarket modern dapat membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan dan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto. 

                                                             sumber : kominfo.go.id

Jika dikelola dengan baik, dipermudah perijinan, dan disosialikasikan dengan cara yang kekinian maka koperasi dapat menjadi wadah berkembangnya wirausaha dan menjadi kebanggan bagi anak muda. Anak muda tidak malu atau asing dengan koperasi bahkan bisa mempromosikan kepada lingkungan yang lebih luas. 

Dengan dukungan masyarakat terutama generasi muda yang akan memegang peranan penting dalam bonus demografi, ekonomi akan berdaya di negeri sendiri melalui wadah koperasi.


sumber referensi :
majalah koperasi & ukm Cooperative edisi September 2017
Buku Dinamika Gerakan Koperasi Indonesia karangan M Iskandar Soesilo Penerbit: PT Wahana Semesta Intermedia tahun 2008.






Comments

  1. Di kelola dengan baik adalah cara Menarik para generasi milenial untuk masuk ke dalam Koperasi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Liburan Akhir Pekan di Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari

Membongkar Mitos dan Fakta Kecantikan Bersama Natasha Skin Clinic