Telah Hadir Buku Referensi Kuliner Jakarta Selatan "Jakarta Culinary & Hangout Spots"

Sejak dibuka kembali restoran, cafe, dan tempat makan lainnya, masyarakat bisa kembali makan ditempat tentunya dengan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, mengecek suhu tubuh dan menjaga jarak dari kerumunan.  Bisnis kuliner sampai saat ini masih banyak yang bertahan karena kuliner merupakan kebutuhan utama selain itu banyak promo atau kemudahan pengiriman bagi konsumen. 


Melihat banyaknya tempat nongkrong sekaligus kuliner di Jakarta, Event Book Communities (EBC) komunitas yang berbasis di Jogjakarta meresmikan buku Jakarta Culinary & Hangout Spots yang berisi kafe, restauran hotel, tempat ngopi di wilayah Jakarta Selatan. Komunitas ini sebelumnya juga telah menghasilkan buku panduan serupa di beberapa kota seperti Malang, Bogor, Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung dan Bali.



Buku setebal lima puluh dua halaman ini juga terdapat voucher berbagai restoran tanpa masa berlaku sehingga bisa digunakan kapanpun saat ingin makan bersama keluarga atau sahabat. Proses pembuatan buku ini dilakukan sejak akhir 2019 dan rencananya akan dirilis Maret tahun ini. Namun karena ada pandemi dan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB maka ditunda sampai kondisi lebih aman. 






Akhirnya buku ini diresmikan kemarin tanggal 30 Agustus 2020 di hotel Harris Tebet dengan protokol kesehatan yang ketat karena sebelum masuk tamu harus  memasuki bilik antiseptik, dicek suhu tubuh dan memakai masker selama acara. Jumlah tamu yang hadir juga terbatas hanya sebanyak empat puluh lima orang. 








Acara launching buku diawali dengan sambutan dan perkenalan team Exclusive Guide Book Jakarta Selatan yaitu Dina Handayani sebagai food stylist, Nuning Widyastuty sebagai Penulis dan Adi Nurbanatra (fotografer). Di sesi ini masing-masing menceritakan harapan agar buku ini bisa menjadi media promosi, motivasi bagi pemilik atau pengelola tempat makan dan panduan bagi masyarakat dalam memilih tempat makan agar bisa sesuai selera atau kebutuhan. 

Selanjutnya ada sesi berbagi bagaimana memotret  makanan supaya terlihat menarik untuk dijual atau dipasarkan melalui media sosial. Ada beberapa poin penting mulai dari angle, pencahayaan, penataan dan pemilihan background. Tamu yang hadir diberikan kesempatan untuk praktek yang akan dipilih tiga pemenang terbaik. 




Sesi ketiga ada talkshow dengan pemilik atau pengelola usaha kuliner yaitu pak Sonny dari Tanagodang, pak Bagus dari IgaBagus dan Brian Ardianto dari Master Chef Indonesia. Di sesi ini masing-masing berbagi pengalaman bagaimana bisa bertahan di masa pandemi. Salah satu caranya ialah meningkatkan interaksi atau engagement di media sosial berupa storytelling atau softselling. 


Kedua pengelola dan pemilik usaha kuliner ini mewakili 40 merchant yang tergabung dalam buku Jakarta Culinary and Hangout Spots yang menyajikan beragam menu dari makanan Indonesia, Asia dan Eropa. Bagi saya buku ini bisa memudahkan menentukan tempat makan yang sangat beragam jadi tidak perlu bingung lagi jika ingin menikmati kuliner di Jakarta Selatan. 


Harapan saya buku ini bisa berlanjut untuk wilayah Jakarta lainnya dan bisa diterbitkan dalam bahasa Inggris untuk memudahkan turis atau ekspatriat yang ingin jelajah kuliner di ibukota. Acara launching makin meriah dengan minum jus buah segar dari Mei Juice, menyantap Lapis Botani dan mendapatkan doorprize tempat makan cantik dari Tupperware. 


Buat yang ingin membeli buku Jakarta Culinary and Hangout Spots sekarang sudah tersedia di toko buku Gramedia seharga Rp 55.750 dan ikuti akun instagram @exclusive_guide_book untuk info terbaru lainnya. 
















Comments

Popular posts from this blog

Kulit Sehat Dan Lembut Dengan Sabun Klorofil K-Link