Ritual Rambut Sewu Kami Lahir Bersama, Kami Tidak Akan Mati Bersama
Sasmi dan Sasti adalah saudara kembar yang lahir selisih tujuh menit. Sasmi lahir lebih dulu lalu Sasti menyusul dengan tangisan yang lebih keras. Selama dua puluh delapan tahun, Sasmi dan Sasti tidak pernah terpisah lebih dari tiga hari.
Sampai Sasti memutuskan melakukan sesuatu yang sampai sekarang Sasmi tidak bisa sepenuhnya memaafkan sampai Sasmi memutuskan melakukan sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa sepenuhnya diingat.
Sasmi dan Sasti memiliki fisik yang sama namun karakter yang berbeda. Sasmi lebih pendiam, lebih hati-hati, lebih suka berpikir sebelum bertindak. Bahkan sering dibilang terlalu serius untuk usianya oleh teman-temannya.
Sedangkan Sasti sebaliknya impulsif, berani, kadang terlalu berani. Punya cara melihat dunia yang Sasmi tidak selalu bisa ikuti tapi selalu Sasmi kagumi diam-diam. Mereka saling melengkapi dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang punya saudara kembar.
Ada koneksi yang Sasmi tidak bisa jelaskan secara ilmiah tapi selalu ia rasakan semacam benang tidak terlihat yang menghubungkan kami. Waktu Sasti patah hati di usia dua puluh dua, Sasmi yang di kota lain tiba-tiba nangis tanpa tahu kenapa. Waktu Sasmi jatuh sakit keras tahun lalu, Sasti yang sehat-sehat saja tiba-tiba tidak bisa makan selama tiga hari.
Mereka selalu terhubung seperti yang akhirnya Sasmi pelajari dengan cara yang sangat menyakitkan adalah yang membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit dari yang seharusnya.
Sasti yang biasanya menghubungi gue hampir setiap hari tiba-tiba jadi jarang. Chatnya singkat-singkat. Kalau Sasmi menelepon, Sasi mengangkat tapi suaranya terdengar jauh bukan jauh secara jarak, tapi jauh secara lain yang Sasmi tidak bisa namakan.
Sasmi bertanya apakah ada masalah Sasti bilang tidak ada lalu ia tanya apakah dia baik-baik saja dia bilang lebih baik dari sebelumnya.
Keanehan itu membuat Sasmi justru mulai khawatir. Karena Sasti yang ia kenal tidak pernah menjawab pertanyaan Sasmi dengan kalimat sepanjang itu. Biasanya dia jawab dengan emoji atau satu kata. Kalimat yang terlalu rapi itu terasa seperti kalimat yang sudah disiapkan. Bukan spontan.
Bukan berikutnya Sasmi bermimpi aneh bukan mimpi yang bisa ia ceritakan detailnya karena setiap kali ia bangun langsung lupa. Yang tersisa hanya perasaan-perasaan bahwa dalam mimpi itu ia sedang berdiri di tempat yang sangat gelap dan ada sesuatu yang menarik ia ke bawah pelan tapi konstan.
Dan setiap pagi setelah mimpi itu, di bantal Sasmi ada rambut lebih banyak dari rontok biasa berwarna hitam panjang.Sasmi berpikir ia stres lalu minum vitamin tapi ternyata tidak membaik.
Bulan ketiga, Sasmi mulai merasakan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Kelelahan yang tidak proporsional. Bukan lelah karena kerja terlalu keras atau kurang tidur. Lelah yang berbeda seperti ada sesuatu yang menggunakan energi Sasmi tanpa izin. Seperti ada lubang kecil di suatu tempat dalam diri Sasmi yang tidak terlihat tapi terus mengalirkan sesuatu ke luar.
Sasmi lalu memeriksakan diri ke dokter hasilnya semua normal. Kemudian konsultasi ke psikolog katanya Sasmi mengalami burnout. Sasmi tidak percaya diagnosis itu. Tapi Sasmi tidak punya penjelasan lain.
Di bulan keempat, Sasmi memutuskan pergi ke kota tempat Sasti tinggal. Sasmi tidak memberitahu sebelumnya. Sasmi langsung datang ke apartemennya. Sasti membuka pintu dan wajahnya wajah yang sama persis dengan wajah Sasmi namun terlihat berbeda.
Lebih cerah, lebih bersinar, lebih muda bahkan, kalau itu masuk akal untuk dikatakan tentang seseorang yang usianya sama dengan Sasmi. Tapi matanya terlihat seperti seseorang yang menyimpan sesuatu yang sangat berat dan sudah sangat lama menyimpannya sampai tidak lagi merasakan beratnya.
Merek mengobrol beberapa jam. Sasti cerita soal kerjaan, soal teman-temannya, soal rencana liburan yang ingin dia lakukan tahun depan. Sasmi mendengarkan dan mengamati satu hal yang membuat bulu kuduk Sasmi berdiri di sudut kamar Sasti di bawah meja riasnya ada sesuatu yang tersusun rapi. Sasmi melihat sekilas waktu lewat ke kamar mandi.
Rambut panjang disusun dalam pola melingkar bukan berserakan bukan rontok biasa tersusun dengan sangat rapi seperti seseorang yang melakukannya berkali-kali sampai mahir.
Sasmi mengkonfrontasi Sasti malam itu ia menunjuk sudut kamar itu. Ia langsung bertanya namun Sasmi hanya terdiam lalu dia duduk di tepi kasurnya dan melakukan sesuatu yang tidak gue duga dia menangis.
Bukan menangis karena ketahuan. Menangis seperti seseorang yang sudah sangat lama menahan sesuatu dan akhirnya ada yang membuka katupnya. Dan di antara tangisannya, Sasti bercerita.
Dia memang menjalankan **Ritual Rambut Sewu**. Tapi bukan untuk mengikat seseorang. Bukan untuk menghancurkan rumah tangga orang. Bukan untuk alasan yang selama ini Sasmi bayangkan ketika mendengar nama ritual itu. Sasti melakukannya untuk Sasmi.
Setahun lalu kata Sasti dengan suara yang masih bergetar ada orang yang mau menyakiti Sasmi. Seseorang yang punya niat sangat gelap ke ia. Sasti tidak bisa cerita siapa. Tapi Sasti tahu. Dan Sasti tidak punya cara lain untuk melindungi kamu."*
Sasmi terdiam mendengar bahwa Ritual Rambut Sewu bisa dipakai untuk melindungi lanjut Sasti. Bukan hanya untuk mengikat atau menyakiti. Kalau dilakukan dengan rambut dua orang yang punya ikatan darah yang kuat terutama ikatan kembar perlindungannya sangat kuat. Tidak ada yang bisa menembus.
Namun semua ritual pasti ada harganya ungkap Sasti. Sasti menatap Sasmi dan ia melihat sesuatu di matanya yang baru ia mengerti sekarang kelelahan yang sama dengan yang ia rasakan selama beberapa bulan ini. Tapi di mata Sasti, kelelahannya jauh lebih dalam. Jauh lebih lama. Jauh lebih berat.
*"Perlindungan itu tidak gratis,"* kata Sasti pelan. *"Ada yang mengalirkan dari pelakunya ke orang yang dilindungi. Supaya orang yang dilindungi tetap kuat meskipelakunya yang melemah."*
Sasmi berdiri diam sangat lama.Kelelahan yang ia rasakan selama berbulan-bulan itu.Rambut yang rontok di bantal setiap pagi.Energi yang terus mengalir keluar tanpa Sasmi bisa hentikan. Itu bukan milik Sasmi. Itu milik Sasti yang mengalir ke Sasmi setiap hari selama setahun.
Sasmi tidak langsung marah dan tidak langsung menangis.Sasmi duduk di lantai kamar Sasti sangat lama. Ia tanya satu pertanyaan yang ia tahan lama sekali. "Sasti. Siapa yang mengajarkan ritual ini ke kamu?" Sasti berhenti sebentar. Terlalu lama. "Ketemu seseorang," katanya akhirnya. "Siapa?" "Perempuan tua. Di pasar. Dia bilang dia bisa bantu aku melindungi kamu."*
"Dan kamu langsung percaya?" “Aku”tidak punya pilihan lain waktu itu, Sas." Sasmi mengamati wajah Sasti. Wajah yang sama persis dengan wajah gue. Dan ia mencari dengan cara yang ia tidak bisa jelaskan, ia mencari apakah Sasti berbohong.
Sasti tidak berbohong tapi ada sesuatu yang dia tidak ceritakan sepenuhnya. Sasmi bisa merasakan itu. Seperti selalu bisa ia rasakan selama dua puluh delapan tahun.
*"Sasti,"* kata Sasmi pelan. *"Rambut yang kamu gunakan untuk ritualnya — rambut siapa?" Sasti diam. *"Rambut kamu sendiri dan rambut aku?"* tanya Sasmi. Sasti mengangguk sangat pelan. *"Kamu dapat rambut aku dari mana?"* *"Dari sisir kamu. Dari bantal waktu kamu menginap. *"Sudah berapa helai yang kamu gunakan?"*
*"Sasti. Sudah berapa helai?"* Sasti menutup matanya.*"Seribu dua ratus."* angka itu menggantung di udara di antara kami. Sasmi berdiri lalu pergi *"Aku perlu udara,"* kata Sasmi dan ia keluar dari apartemen Sasti tanpa menoleh.
Sasmi duduk di bangku taman kecil di bawah apartemen Sasti. Udara malam kota ini bau asap kendaraan dan gorengan dari warung yang masih buka di ujung jalan.
Sasmi pikir tentang Sasti yang selama setahun ini diam-diam melemah supaya Sasmi bisa kuat. Diam-diam mengalirkan energinya ke Sasmi melalui ritual yang Sasmi bahkan tidak tahu keberadaannya.
Waktu rambut itu mulai ada di bantal Sasmi setiap pagi, waktu kelelahan itu mulai ia rasakan, ada satu momen, satu momen saja, di mana ia merasakan sesuatu yang berbeda dari kelelahan dan kepanikan. Ada momen di mana ia merasa lebih kuat, lebih tajam. lebih hidup. Seperti ada sesuatu yang ditambahkan ke dalam dirinya dari luar.
Tapi sekarang Sasmi tahu itu bukan perasaan Sasmi, itu Sasti yang mengalir masuk.Sasmi memegang wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Dan Sasmi baru menyadari sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak tadi.
Sejak Sasmi tiba di apartemen Sasti tadi sore dan melihat wajahnya yang lebih cerah, lebih bersinar, lebih muda ia pikir itu aneh karena Sasti seharusnya melemah kalau dia yang mengalirkan energinya.
Tapi Sasti justru terlihat lebih sehat dari biasanya yang melemah adalah Sasmi dan Sasti yang cerah bersinar itu bukan karena ritualnya berhasil melindungi Sasmi.
Sasmi naik kembali ke apartemen lalu mengetuk pintu. Sasti membuka. Matanya masih merah dari menangis. Sasmi masuk lalu menutup pintu. Sasmi duduk di hadapannya Sasti.
Dan Sasmi tanya satu pertanyaan terakhir dengan suara yang sangat tenang. *"Sasti. Perempuan tua di pasar itu apa yang sebenarnya dia jual ke kamu?" *Sasti tidak menjawab.*"Bukan perlindungan, kan?" *Sasti menutup matanya.
*"Ritual Rambut Sewu yang kamu jalankan rambut dari pelaku mengalir ke yang dilindungi. Kamu bilang begitu. Jadi kalau kamu pelakunya, harusnya kamu yang melemah. Tapi kamu justru yang sehat. Aku yang lelah. Aku yang rambutnya rontok. Aku yang merasa ada sesuatu yang terus mengalir keluar dari diri aku."*
*"Sasti. Dalam ritual yang kamu jalankan ini siapa pelakunya dan siapa yang dilindungi?" *Air mata mengalir di pipi Sasti. Tapi dia tidak menjawab. Dan dalam diam itu, dalam keheningan yang menggantung di antara dua wajah yang identik, Sasmi akhirnya mengerti.
Perempuan tua di pasar itu tidak menjual ritual perlindungan kepada Sasti. Dia menjual ritual penguatan. Ritual untuk mengalirkan energi dari satu orang ke orang lain. Dari kembar satu ke kembar lainnya.
Dan Sasti adikku, saudara kembarku, orang yang selama dua puluh delapan tahun selalu ada di sisiku entah dengan sadar atau tidak sadar, entah karena tertipu atau karena memilih. Sasti adalah pelakunya dan Sasmi adalah sumbernya.
Kami duduk berhadapan sampai hampir subuh. Kadang bicara. Kadang diam. Kadang menangis bersama-sama dengan cara yang tidak memerlukan kata-kata dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang lahir dari rahim yang sama.
Sasti akhirnya cerita semuanya. Perempuan tua di pasar itu datang kepadanya bukan Sasti yang mencari. Datang pada saat Sasti sedang di titik paling rendah dalam hidupnya, pada saat yang Sasmi tidak tahu karena Sasti tidak pernah cerita ke Sasmi.
Perempuan itu menawarkan sesuatu yang waktu itu terdengar seperti solusi.*"Kamu bisa ambil kekuatan dari kembarmu. Sedikit saja. Tidak akan terasa. Kalian terhubung energi itu memang sudah selalu mengalir di antara kalian. Ini hanya membuatnya mengalir ke satu arah."*
Sasti percaya. Atau mungkin lebih tepatnya Sasti ingin percaya. *"Aku minta maaf,"* kata Sasti. Berkali-kali. *"Aku tidak tahu sampai seberapa jauh. Aku tidak tahu kalau kamu yang merasakan akibatnya sebesar itu."*
Aku dengarkan. Aku tidak langsung bilang aku maafkan karena aku belum tahu apakah itu jujur atau tidak. Tapi Sasmi tahu satu hal. Ikatan kembar yang mereka miliki seperti benang tidak terlihat yang selalu menghubungkan mereka sekarang bukan lagi sesuatu yang netral.
Sekarang ia adalah jalur ritual dan ritual itu, kata semua yang Sasmi baca dan Sasmi tahu tentang **Ritual Rambut Sewu** Tidak bisa dihentikan dari tengah jalan
Satu bulan kemudian Sasmi masih di kota Sasti. Sasmi belum kembali ke kota ia sendiri. Mereka sedang mencari cara untuk menghentikan ini bersama, kali ini, tidak ada yang menyembunyikan apapun dari yang lain.
Kelelahan Sasmi sedikit berkurang sejak Sasti berhenti menjalankan ritualnya secara aktif. Tapi jalurnya masih ada. Sasmi masih bisa merasakannya seperti pipa yang sudah terpasang, yang walaupun krannya ditutup, masih ada sedikit yang menetes.
Rambut Sasmi masih rontok. Lebih sedikit dari sebelumnya. Tapi masih ada. Dan setiap pagi, tanpa kecuali di antara rambut yang rontok di bantal Sasmi ada rambut yang bukan miliknya. Lebih panjang dari rambut Sasmi, lebih halus persis seperti rambut Sasti.
Sasmi tidak bilang ini ke Sasti. Karena Sasmi tidak tahu apakah ini artinya ritual itu masih mengalir dari Sasti ke Sasmi atau apakah ini artinya sesuatu sudah balik arah sekarang Sasmi yang mengalir ke Sasti.
Sasmi dan Sasti masih hidup masih bersama dan setiap malam sebelum tidur, keduanya memeriksa bantal masing-masing. Menghitung rambut yang rontok, mengamati arahnya, mencoba menebak siapa yang mengalir ke siapa dan tidak pernah bisa dipastikan.
Karena dalam Ritual Rambut Sewu yang menggunakan ikatan kembar sebagai medianya tidak ada pelaku tidak ada korban hanya dua orang yang terikat terlalu dalam untuk bisa dibedakan lagi. Mana yang memberikan dan mana yang mengambil.



Comments
Post a Comment